Tampilkan postingan dengan label economy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label economy. Tampilkan semua postingan

Indonesia's Improved Investment Climate Appreciated

Editor: Jimmy Hitipeuw
Jumat, 18 Februari 2011 | 16:00 WIB

Reuters
A ship is loaded with containers as it berths at the Tanjung Priok port in Jakarta August 12, 2010. Indonesias state port firm will start building a new container terminal in Jakarta this year to cope with overflowing volumes at the main shipment hub in Indonesias capital as trade grows.

JAKARTA, KOMPAS.com - United States businessmen appreciate the improved investment climate and the removal of many investment barriers in Indonesia. The appreciation was expressed by members of a US-ASEAN Economic Cooperation Council delegation at a meeting with President Susilo Bambang Yudhoyono at his office here on Friday.

Perbankan Syariah Nasional Tumbuh 47 Persen

Jumat, 11 Februari 2011, 16:36 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Aset perbankan syariah pada tahun 2010 tumbuh 47 persen dan mencapai Rp100,26 triliun. Pertumbuhan itu menjadi tanda awal dari era pengembangan perbankan syariah di Tanah Air.

"Aset yang telah tembus Rp100 triliun ini awal pengembangan perbankan syariah yang telah memiliki enam juta nasabah dan sekitar 20 ribu tenaga kerja," kata Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Mulya Siregar, di Jakarta, Jumat.

Total aset tersebut terdiri dari aset bank umum syariah dan unit usaha syariah sebesar Rp97,52 triliun. Lalu Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp2,74 triliun.

Kenapa Investor Asing Makin Minati Indonesia

Komite Ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 mencapai 6,4 persen.
SENIN, 20 DESEMBER 2010, 13:52 WIB Heri Susanto, Ajeng Mustika Triyanti

VIVAnews - Komite Ekonomi Nasional memperkirakan investasi di Indonesia akan terus membaik pada 2011.
"Aktivitas dan aliran modal asing akan terus meningkat di Indonesia," ujar anggota Komite Ekonomi Nasional, Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Senin, 20 Desember 2010.

Menurut Yudhi, ada sejumlah alasan mengapa investor asing semakin tertarik menanamkan modal di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah kondisi perekonomian yang terus membaik, suku bunga rendah, pertumbuhan ekonomi yang meningkat, pasar yang besar, serta stabilitas sosial politik yang tinggi. Apalagi, peringkat utang Indonesia tampaknya semakin mendekati peringkat invesment grade.

"Indonesia hanya tinggal memperbaiki dan menyempurnakan infrastruktur. Jika sebelum akhir tahun depan infrastruktur sudah siap, maka Indonesia sudah siap masuk investment grade," kata Yudhi.

Dengan pertimbangan ini, dia optimistis investasi akan tumbuh 13,4 persen pada 2011. Ekspor Indonesia diperkirakan juga masih akan tumbuh signifikan mengingat perekonomian dunia yang diperkirakan akan tetap baik. "Ekspor akan tumbuh 13,0 persen."

Saat ini perekonomian Indonesia berada pada fase ekspansi dari siklus bisnisnya. Data historis menunjukkan biasanya ekonomi Indonesia dapat berekspansi setelah 7 tahun (rata-rata). Indonesia baru memasuki fase ekspansi lagi pada Maret 2009. "Jadi perekonomian Indonesia akan berada dalam fase ekspansi sampai 2016."

Dari sisi konsumsi, Yudhi menekankan belanja rumah tangga diperkirakan akan tetap kuat pada 2011. Belanja konsumen menyumbang sekitar 55-60 persen terhadap perekonomian Indonesia. Belanja rumah tangga diperkirakan akan tumbuh dengan laju 5 persen. Sementara itu belanja pemerintah akan tumbuh dengan laju 15,5 persen di tahun depan.

Didukung oleh investasi, konsumsi dan ekspor, Komite Ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 akan mencapai 6,4 persen dengan laju inflasi sekitar 6,0-6,5 persen. Dengan pertumbuhan tersebut, total output perekonomian Indonesia akan mencapai Rp7.726 triliun atau sekitar US$858,4 miliar. (umi)

sumber

Omzet Perusahaan RI di Amerika Miliaran Dolar

"Kami surprise ternyata banyak warga Indonesia yang bekerja dan menjadi pengusaha di AS."
JUM'AT, 17 DESEMBER 2010, 22:09 WIB Arinto Tri Wibowo, Iwan Kurniawan


Ketua Umum Hipmi, Erwin Aksa (VIVAnews/Anda Nurlaila)

VIVAnews - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi)-US Trade Mission 2010 berpotensi membuka hubungan antara pengusaha Indonesia yang berada di Amerika Serikat. Bahkan, Hipmi berencana untuk merekrut pengusaha Indonesia yang berbasis di Amerika guna menjadi representatif Hipmi di sana.

"Kami surprise ternyata banyak warga negara Indonesia yang bekerja dan menjadi pengusaha di Amerika," kata Ketua Umum Hipmi, Erwin Aksa, di Jakarta, Jumat 17 Desember 2010.

Menurut Erwin, ada pengusaha Indonesia yang mempunyai perusahaan di sektor teknologi dan informasi (TI) bernama Marvel Technology, yang memproduksi semi konduktor di Silicon Valey yang menjadi pusat TI dunia. Omzetnya mencapai miliaran dolar AS.

"Ini memberikan inspirasi bagi kami dan merupakan kebanggaan bagi Indonesia," ujarnya.

Selain membuka kantor representatif di Amerika, dia menjelaskan, Hipmi sukses melakukan kerja sama bisnis antara pengusaha Indonesia dan Amerika. Bisnis itu antara lain di industri furnitur. Beberapa pengusaha furnitur Indonesia akan memasok untuk hotel-hotel di Amerika.

Bahkan, beberapa hari setelah kepulangan rombongan Hipmi, pengusaha Amerika yang datang ke Indonesia juga membuka hotel di Bandung, Yogyakarta, dan Bali. "Untuk nilainya kami tidak bisa berikan karena setiap bisnis bersifat confidential," kata Erwin.

Selain itu, dia menambahkan, HIPMI juga membuka jaringan bagi pengusaha Indonesia yang tertarik untuk membuka usaha waralaba asal Amerika. Hipmi telah bertemu dengan International Franchise Assosiation untuk membuka jaringan.
Nantinya, bagi pengusaha yang akan membuka bisnis waralaba asal Amerika, pengusaha tinggal menghubungi asosiasi waralaba Amerika tersebut.

Hipmi pun tertarik untuk mengimplementasikan Angel Investors Community. Lembaga ini berperan sebagai bapak angkat yang berkomitmen untuk membantu pendanaan pengusaha pemula guna memulai suatu bisnis. "Tindak lanjut kerja sama Hipmi akan dikoordinasikan dengan perwakilan RI di Amerika Serikat," katanya. (hs)
sumber

Goldman Sachs Meleset Prediksi Ekonomi RI

Goldman Sachs semula memperkirakan PDB Indonesia akan mencapai US$419 miliar pada 2010.
KAMIS, 4 NOVEMBER 2010, 05:05 WIB Heri Susanto

VIVAnews - Prediksi lembaga keuangan bergengsi Goldman Sachs soal ekonomi Indonesia dinilai meleset karena terlalu konservatif. Yang terjadi, perkembangan ekonomi Indonesia melebihi perkiraan awal Goldman Sachs.

Goldmans Sachs dalam laporan "Next11: Not Just an Acronyim" yang dirilis pada 2007 menyebutkan Produk Domestik Bruto ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai US$419 miliar pada 2010. "Faktanya, sekarang PDB Indonesia sudah di atas US$700 miliar," kata ekonom Cyrillus Harinowo kepada VIVAnews di Jakarta, 3 November 2010.

Ini sama dengan prediksi Goldman Sachs soal ekonomi China. Dalam laporan "Dreaming with BRICs: The Path to 2050" yang dipublikasikan 2003, lembaga keuangan ternama ini semula memperkirakan ekonomi China akan mengalahkan Jerman dalam beberapa tahun ke depan, Jepang pada 2015 dan Amerika Serikat pada 2041.

Faktanya, ekonomi China mengalahkan Jerman pada 2007 dan menyisihkan Jepang pada Juli 2010. Sekarang, Goldman Sachs memperkirakan ekonomi China akan menggeser Amerika Serikat pada 2027.

Goldman Sachs adalah konsultan keuangan yang mempopulerkan BRIC, akronim yang merujuk pada empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020. BRIC kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. Total produk domestik bruto (PDB) BRIC diperkirakan mencapai US$30,2 triliun atau melampaui PDB tujuh negara industri maju (G-7) pada 2027. Bahkan, BRIC akan menjadi kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050.

Kemudian, Goldman Sachs mempopulerkan potensi kekuatan ekonomi baru lainnya, yang disebutnya dengan istilah Next11. Ini mencakup Indonesia, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh. Dalam prediksinya, Goldman Sachs memperkirakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh pada 2050.

Namun, melihat perkembangan yang terjadi, Harinowo jauh lebih optimistis dari perkiraan Goldman Sachs. "Buktinya, prediksi Goldman Sachs dikalahkan oleh realitas yang lebih baik," kata dia. "Jadi, bisa saja nanti Goldman Sachs akan merevisi lagi proyeksi ekonomi tentang Indonesia."

Saat ini, kata dia, dari sisi volume ekonomi dengan PDB US$700 miliar, Indonesia menempati urutan ke-18 di dunia. Tahun depan, diperkirakan Indonesia akan melewati Turki di posisi ke-17.

Dengan PDB semakin besar, berarti pendapatan per kapita penduduk Indonesia juga semakin besar. Saat ini saja, pendapatan per kapita Indonesia sudah menembus US$3000. "Karena itu, bangsa Indonesia harus optimistis menatap kemakmuran yang akan lebih baik di masa mendatang," kata mantan Deputi Gubernur BI ini.

Miliarder Warren Buffet Lirik Indonesia

Warren Buffet merupakan orang terkaya nomor tiga di dunia versi majalah Forbes.
SELASA, 19 OKTOBER 2010, 07:10 WIB Ita Lismawati F. Malau, Ismoko Widjaya


VIVAnews - Bila tidak ada aral melintang, konglomerat asal Amerika Serikat (AS), Warren Buffet, akan menanam modal di Indonesia. Melalui perusahaan pembuat baterai dan mobil listrik Build Your Dreams (BYD) Co Ltd Investor yang berbasis di China, Buffet berminat berinvestasi di Indonesia.

"Dijadwalkan sekitar pukul 15.00, pada 20 Oktober 2010, Wakil Presiden akan bertemu CEO BYD (Wang Chuanfu)," kata juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat kepada wartawan di Nanning Hotel, Nanning, China, Selasa 19 Oktober 2010.

Yopie belum bisa memberikan penjelasan seperti apa detail realisasi dari renana tersebut. "Saat ini statusnya masih to be confirmed. Mudah-mudahan dia mau investasi di Indonesia," kata Yopie.

Bos BYD di China, Wang Chuanfu, merupakan orang terkaya nomor satu di Negeri Tirai Bambu. Sedangkan Warren Buffet, miliarder nerusia 79 tahun, merupakan orang terkaya nomor tiga di dunia versi majalah Forbes.

BYD yang baru berdiri tujuh tahun lalu itu kini telah menjadi perusahaan otomotif nomor enam terbesar di China. Perusahaan ini menjadi salah satu yang menetapkan jadi atau tidaknya kendaraan elektrik atau hybrid sebagai rencana kendaraan pakai dalam jangka panjang.

VIVAnews

PDB per Kapita Dekati USD3.000

Senin, 27 September 2010 - 07:15 wib

JAKARTA - Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia dalam kurun waktu enam tahun terus menunjukkan kenaikan. Pemerintah optimistis PDB per kapita bisa menembus angka USD3.000.

Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, kondisi perekonomian dalam negeri semakin membaik dilihat dari pertumbuhan dan ketahanan ekonomi dalam negeri dari goncangan krisis global tahun 2008 lalu.

"Berdasarkan hasil sensus nasional yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu, PDB per kapita kita hampir mendekati USD3.000.Angka yang jauh meningkat dibanding tahun 2004 yang hanya mencapai USD1.189," ungkap Hatta saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta Sabtu (25/9) malam.

Hatta memaparkan, saat ini dari jumlah pekerja Indonesia yang mencapai 90 juta orang, 30 persen di antaranya termasuk berpenghasilan cukup tinggi, yakni USD5.000-6.000 per kapita. Sedangkan 10 persennya masih berpenghasilan rata-rata USD4.000 dan sisanya, 60 persen masih berkisar USD2.000 per kapita.

"Disparitas inilah pekerjaan besar untuk meningkatkan PDB per kapita kita agar lebih tinggi,”ujar Hatta.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) /Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo menuturkan, saat ini PDB per kapita Indonesia masih berkisar di angka USD2.500-2.900.

“Bisa saja dalam waktu dekat PDB per kapita kita akan mencapai USD3.000,”ungkap Lukita.

Berdasarkan data yang dilansir BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 yang mencapai 4,5 persen mendorong pendapatan per kapita Indonesia pada 2009 naik menjadi Rp24,3 juta atau setara dengan USD 2.590,1.Angka tersebut menunjukkan peningkatan 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp21,7 juta (USD 2.269,9).

Sedangkan pada tahun 2007 PDB per kapita Indonesia hanya USD1.964,3. Berdasarkan data tersebut, ujar dia, dapat diartikan bahwa PDB per kapita Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun ke tahun.

“Itu menggambarkan kondisi pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia saat ini, dan besar kemungkinan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi,”kata Lukita.

Lukita menjelaskan, peningkatan PDB Indonesia yang kini di kisaran Rp7.000 triliun dengan PDB per kapita berada pada kisaran angka USD2.500-2.900, membuat Indonesia naik peringkat menjadi negara berpenghasilan menengah atau lower middle income country.
Namun, nominal PDB atau PDB per kapita tidak serta-merta dapat diartikan kayanya suatu negara. Menurut dia, PDB Indonesia yang cukup besar tidak serta-merta diikuti dengan besarnya PDB per kapita.

“Karena perhitungan ini tergantung banyaknya jumlah penduduk, dan Indonesia termasuk negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar,”katanya.

Hal inilah yang membuat PDB per kapita Indonesia lebih rendah dibanding negara-negara lain. Namun, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tetap ada sisi positif yang bisa dioptimalkan.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) terpilih Suryo Bambang Sulisto (SBS) menyatakan perekonomian Indonesia mengahadapi persaingan global dalam dalam upaya menuju perekonomian yang tangguh . Untuk itu, dia meminta semua seluruh unsur-unsur bisnis dan komponen bangsa bisa bekerja sama secara efektif dengan pemerintah. Menurut SBS, tantangan yang yang hadapi dalam lima tahun ke depan antara lain menggairahkan dunia usaha, meningkatkan dan menggenjot daya saing.

"Saya kira yang penting adalah bagaimana kita mempersatukan, jangan ada kesan seakan-akan ada terkotak-kotak dan sebagainya, kita persatukan kekuatan ekonomi,” jelasnya.

SBS menegaskan, akan fokus pada pembangunan ekonomi di daerah karena menutrutnya ekonomi di daerah adalah pusat kekuatan ekonomi bangsa. Dia melihat, peluang-peluang usaha banyak terdapat di daerah sehingga layak diberikan lebih banyak perhatian. “Kita perlu mendorong investor untuk berinvestasi di daerah dan ekonomi daerah bisa bangkit,” kata pria kelahiran Solo,11 Februari 1947 itu.(Koran SI/Koran SI/wdi)

sumber

Ekonomi RI Tumbuh Empat Kali Lebih Cepat dari AS

Minggu, 12 September 2010 - 09:16 wib
Rheza Andhika Pamungkas - Okezone


JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan dapat mencapai 6,2 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) hanya bisa menyentuh 1,6 persen.

Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa aliran dana asing (capital inflow) begitu derasnya masuk ke perekonomian Indonesia.

"Jika dilihat dari data tersebut, maka secara fudamental pertumbuhan ekonomi Indonesia masih empat kali lebih cepat dibandingkan AS. Ini menjadi alasan mengapa capital inflow masuk ke pasar Indonesia," ujar Vice President Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere, saat dihubungi wartawan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Alasan lainnya adalah keuntungan berganda (double gain) yang membuat investor asing semakin agresif dalam memburu saham di bursa domestik.

Sepanjang Agustus 2010, nilai beli bersih investor asing (foreign nett buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan tercatat mencapai Rp90 miliar per hari.

"Selain mendapatkan capital gain (imbal hasil) dari kenaikan harga saham, investor asing juga mendapat dari nilai tukar rupiah yang menguat," jelas Pengamat Pasar Modal Felix Shindunata, di Jakarta, belum lama ini.(ade)

sumber

Orang Kaya Indonesia (juga) Meningkat

Senin, 4 Oktober 2010 - 15:25 wib

Pertumbuhan orang kaya di Indonesia tak kalah signifikan dibandingkan negara-negara lain di Asia-Pasifik. Dalam kelompok ekonomi emerging market, Indonesia bahkan termasuk salah satu negara mesin pertumbuhan kawasan Asia-Pasifik.

Dari laporan Asia-Pasific Wealth Report 2010 yang dipublikasikan Capgemini Consulting Technology Outsourcing bekerja sama dengan Merril Lynch Wealth Management terungkap, jumlah populasi orang kaya di Indonesia pada akhir 2009 mencapai 24.000 orang. Artinya, jumlah orang berduit di Indonesia meningkat 28,3% dibanding 2008 yang hanya 19.000 orang.

Laporan tersebut juga mengungkapkan, angka pertumbuhan orang kaya di Indonesia lebih besar ketimbang Thailand yang hanya 19,6%, KoreaSelatan ( 21,2%), Jepang (20,8%), dan negara lainnya (11,1%). Tetapi, pertumbuhan populasi orang kaya di Indonesia masih di bawah Hong Kong yang mencapai 104,4%, India (50,9%), Taiwan (42,3%), Australia (34,4%), Singapura (32,7%), dan China (31%).

Kendati meningkat signifikan, dilihat dari sisi jumlah, populasi orang kaya di Indonesia termasuk rendah. Jumlah tertinggi dicapai Jepang dengan populasi orang kaya mencapai 1,65 juta orang. Lalu, negara di Asia-Pasifik dengan populasi orang kaya terbanyak kedua adalah China dengan 477.000 orang, diikuti Australia (174.000 orang). Posisi selanjutnya ditempati Korea Selatan dengan 127.000 orang, India juga 127.000 orang, Taiwan (83.000 orang), Singapura (82.000 orang), Hong Kong (76.000 orang), dan Thailand (50.000 orang).

Indonesia berada di urutan selanjutnya dengan populasi orang kaya sebanyak 24.000 orang. Sementara negara-negara lain termasuk Kazakhstan, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Srilanka, dan Vietnam diestimasikan memiliki populasi orang kaya sebanyak 154.000 atau tumbuh 11,1% dibanding tahun sebelumnya. Lalu, berdasarkan distribusi nilai kekayaan orang kaya di Asia-Pasifik, Indonesia menyumbang 0,8% atau sebesar USD80 miliar pada 2009. Angka ini meningkat 30,6% dibanding 2008.

Jepang tetap berada di urutan pertama dengan menyumbang USD3,89 triliun atau 40,3% dari total nilai kekayaan di kawasan dan meningkat 22,4% dibanding tahun sebelumnya. Kemudian disusul China dengan sumbangan nilai kekayaan USD2,347 triliun atau 24,3% dan meningkat 40,4% dibanding tahun sebelumnya. Australia menyumbang USD519 miliar atau 5,4% dan meningkat 36,7%.

Nilai kekayaan populasi orang kaya India sebesar USD477 miliar atau menyumbang 4,9% di kawasan. Sementara Hong Kong menyumbang 3,9% untuk kawasan dengan nilai kekayaan USD379 miliar. Nilai kekayaan populasi orang kaya Singapura sebesar USD369 miliar atau menyumbang 3,8% untuk kawasan. Korea Selatan menyumbang 3,5% dengan nilai kekayaan USD340 miliar. Taiwan menyumbang 2,7% dengan nilai kekayaan USD264 miliar dan Thailand menyumbang 2,4% dengan nilai kekayaan USD232 miliar.

Negara-negara lain diestimasikan menyumbang 7,8% untuk kawasan dengan nilai kekayaan USD749 miliar pada 2009. Laporan ini menyebutkan, China dan India diekspektasi akan menjadi negara di Asia-Pasifik dengan pertumbuhan populasi orang kaya tertinggi dalam beberapa tahun mendatang. Sementara negara-negara emerging market di antaranya Indonesia dan Thailand akan menjadi mesin utama pertumbuhan di kawasan ini untuk populasi orang kaya.

Negara-negara ini memiliki pertumbuhan rata-rata untuk populasi orang kaya sebesar 33,2% pada 2009 dengan nilai kekayaan meningkat lebih dari 40%. Meski demikian, China dan India masih tetap sebagai dua negara dengan pertumbuhan populasi orang kaya tercepat di dunia. Kemudian, berdasarkan laporan versi lain dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Juni 2010 terungkap, populasi orang kaya di Indonesia mencapai 200.000 orang.

Angka ini merupakan hitungan dari jumlah orang yang memiliki simpanan dana di bank di atas Rp1 miliar per orang. Hal itu belum termasuk aset lain di luar bank seperti aset fisik berbentuk rumah, tanah, dan bangunan lainnya. LPS melansir jumlah nasabah dengan simpanan di atas Rp100 juta ada sekira 2 juta. Meski sedikit berbeda dengan laporan Asia-Pasific Wealth Report 2010, LPS mengestimasikan pertumbuhan orang kaya di Indonesia pada 2010 sebesar 8,1%.

Laporan Asia Wealth Report 2010 juga memaparkan secara rinci ke mana saja distribusi investasi kekayaan para orang kaya di Asia-Pasifik termasuk Indonesia. Di antaranya untuk Indonesia sebanyak 33% aset kekayaan disimpan dalam bentuk tabungan atau deposito. Kemudian disusul investasi untuk real estat sebesar 22%, saham 19%, pendapatan tetap 16%, dan 10% untuk investasi alternatif yang di dalamnya termasuk kurs mata uang asing, derivatif, komoditas, dan lainnya.

Hal serupa juga dilakukan orang kaya Jepang di mana alokasi terbesar investasi terdapat pada tabungan dan deposito (29%), kemudian pendapatan tetap (25%), real estat (23%), saham (19%), dan investasi alternatif (4%). Hal berbeda ditunjukkan orang kaya di China yang lebih suka berinvestasi untuk saham (42%), baru kemudian real estat (27%), tabungan atau deposito (15%), pendapatan tetap (12%), serta investasi alternatif hanya 5%.

Berbeda alokasi investasi para orang kaya di Singapura terbesar justru untuk real estat (34%), kemudian disusul saham (25%), tabungan atau deposito (19%), pendapatan tetap (16%), dan investasi alternatif (5%). Serupa dengan Singapura, kebanyakan orang kaya di Australia lebih suka berinvestasi untuk real estat (40%), baru kemudian saham (25%), simpanan atau deposito (18%), pendapatan tetap (14%), dan investasi alternatif (4%). Sedangkan orang kaya di India lebih suka berinvestasi di saham (32%), pendapatan tetap (25%), real estat (22%), tabungan atau deposito (13%), dan investasi alternatif (8%).

Para orang kaya di Malaysia lebih suka berinvestasi di saham (30%), tabungan atau deposito (23%), pendapatan tetap (22%), real estat (22%), dan investasi alternatif (3%). “Di Jepang, Taiwan, dan Indonesia, para orang kaya tampaknya berinvestasi di saham dalam level yang rendah hanya antara 19–20%. Negara-negara ini memiliki pasar saham yang mapan. Orang-orang kaya di negara ini lebih suka berinvestasi pada pendapatan tetap dan real estat,” ungkap laporan ini.

Terkait ke negara mana saja investasi yang dilakukan para orang kaya di Asia-Pasifik termasuk Indonesia, mereka lebih menyukai berinvestasi di negaranya sendiri. Mereka juga sudah mulai mencari peluang untuk berinvestasi di kawasan lain seperti Timur Tengah dan Amerika Latin. Sekira 71% orang kaya di Indonesia lebih suka berinvestasi di kawasan Asia-Pasifik, 14% investasi di Amerika Utara, Eropa (8%), Afrika (6%), dan Timur Tengah (1%).

Sedangkan 85% orang kaya di China lebih suka berinvestasi di Asia-Pasifik. Sementara di kawasan Amerika Utara hanya 8%, Eropa (4%), Amerika Latin (3%), dan Afrika (1%). Tidak berbeda dengan para orang kaya di Singapura yang lebih suka berinvestasi di Asia-Pasifik (80%), Amerika Utara (9%), Eropa (8%), Amerika Latin (2%),dan Timur Tengah (1%). Sementara para orang kaya di Jepang yang lebih memilih berinvestasi di Asia-Pasifik mencapai 43%, Amerika Utara (30%), Eropa (13%), Amerika Latin (10%), Timur Tengah dan Afrika masing-masing 2%.

sumber